![]() |
Di antara fenomena yang ada dikalangan aktivis da'wah saat ini adalah lemahnya aktifitas da'wah dan tarbiyah serta menurunnya produktifitas da'wah dan tarbiyah. Banyak orang yang pandai berbicara, namun sedikit yang dapat bekerja. Dari yang dapat bekerja itu, tidak semuanya yang bersungguh-sungguh, dan dari yang bersungguh-sungguhpun, tidak semuanya produktif. Sementara, da'i yang produktif dan bijaksana adalah yang dapat mendatangkan hasil yang besar, walaupun dana sedikit dan waktu terbatas. Apalagi banyak tuntutan yang bercabang, baik dari keluarga, pribadi, sosial, dan lain sebagainya.
Oleh karena itu, perlu kita ingat dan pahami kembali bahwa da'wah itu dilakukan di atas bashiroh (ilmu).
Allah berfirman:
قُلْ هَـذِهِۦ سَبِيلِىٓ أَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِى ۖ وَسُبْحَـٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ
"Katakanlah wahai Muhammad ini adalah jalanku yang aku mengajak kepada Allah berdasarkan ilmu, aku dan orang-orang yang mengikutiku, Maha suci Allah dan aku bukan termasuk orang-orang yang musyrik". (QS. Yusuf:108)
Dari sini hendaknya da'wah dan tarbiyah yang kita lakukan harus profesional dalam arti bahwa para da'i dan murobbi harus memiliki kriteria da'i atau murobbi sukses. Oleh karena itu, ada beberapa kriteria yang harus dimiliki untuk menjadi da'i atau murobbi sukses atau murobbi yang produktif, yaitu :
1. Mutsaqqif (Terpelajar atau berwawasan)
Dalam hal Mutsaqqif ini, seorang kader da'wah dituntut untuk:
- Memiliki wawasan yang berkaitan dengan ulumu as-syar'iyyah.
Setiap kader perlu memiliki wawasan keislaman yang cukup untuk berda'wah.
- Memiliki wawasan yang berkaitan dengan ulumu al-kauniyyah.
Ilmu pengetahuan saat ini semakin berkembang dan manusiapun semakin modern. Kalau para murobbi atau da'i tidak megembangkan dirinya dengan membaca, mendengar, bertanya, dan ativitas belajar lainnya, pasti sang murobbi akan tertinggal dan pada akhirnya kalah bersaing. Terlebih lagi masyarakat sekarang lebih kritis dan tidak mudah menerima pandangan atau pendapat (fikrah) tanpa adanya argumentasi, dalil, fakta, dan data ( terutama berupa angka) sehingga harus betul-betul ilmiah. Tidak cukup bagi kita menyampaikan satu teori atau ilmu pengetahuan, norma, doktrin yang tidak didasari dengan argumentasi yang kuat. Ternyata, kondisi yang ada tidak sejalan dengan kenyataanya. Saat ini, kita melihat ada kelemahan pada para aktivis da'wah yang tidak menyempatkan dan memprogram diri untuk belajar atau menambah wawasan. Sibuk, tidak ada waktu, banyak pekerjaan, banyak tugas, menjadi alasan yang seakan masuk akal sehingga akibatnya pesan-pesan yang disampaikan tidak kokoh dan kuat. Padahal, sudah menjadi keharusan bagi para aktivis da'wah dan para murobbi untuk memperkaya wawasan dan ilmu pengetahuan. Bukankah ayat yang pertama kali diturunkan oleh Allah SWT sebelum ayat da'wah adalah perintah untuk belajar "iqro".
- Memiliki wawasan yang berkaitan dengan ulumul insaniyyah (wawasan tentang kejiwaan).
Objek yang kita hadapi dalam da'wah adalah manusia Kita harus terus belajar untuk mengetahui, baik melalui buku, pengalaman, maupun bertanya serta berkawan dan berbagai cara kreatif lainnya. Sebab, kita tidak mungkin dapat menyampaikan da'wah secara efektif dan tepat sasaran kalau kita tidak memiliki wawasan dan ilmu pengetahuan serta informasi tentang realitas sosial dan masyarakat. Kalau kita menyampaikan da'wah yang tidak dapat dimengerti dan difahami suatu kaum, maka sia-sia waktu, tenaga, dan dana yang kita habiskan karena tidak efektif. Walaupun dari sisi ukuran pahala, maka pahala tetap kita dapatkan. Akan tetapi, bukan hanya sebatas mendapatkan pahala kalau itu mengajak orang kepada kebaikan. Kita juga harus mencari dan mengetahui pintu-pintu bagaimana kita dapat "memasuki" diri sang objek da'wah. Ada banyak cara yang dapat kita lakukan.
Di antaranya adalah dengan melalui pintu bahasa, pintu budaya, dan pintu tradisi jika memang tidak bertentangan dengan syari'at.
- Memiliki wawasan yang berkaitan dengan fiqhu ad-da'wah atau fiqhul harokii dan tsaqofah harokii.
Objek da'wah kita saat ini sudah semakin luas. Ada kalangan petani, guru, birokrasi, eksekutif, legislatif, dan yudikatif serta kalangan aparat keamanan, baik dari kepolisian maupun dari TNI, pengusaha, pedagang, dan lain sebagainya. Kalau kita mampu menda'wahi seluruh segmen ini, maka visi da'wah menjadi khilafah fil ardhi (pemimpin dunia) akan tercapai. Tidak mungkin bagi kita untuk dapat memimpin dunia kalau kita tidak dapat merangkul seluruh lapisan masyarakat yang ada dan konsekuensinya adalah kita harus memiliki tsaqofah yang berkaitan dengan keberagaman karakteristik manusia itu sendiri; ada budaya, tradisi, suku, emosi, kecendrungan, dan sebagainya. Untuk itulah, kita harus memiliki ilmunya. Ketika kita ingin bergerak di lingkungan masyarakat yang tradisional, maka ada ilmu dan cara pendekatannya. Ketika kita ingin bergerak dan berda'wah di kalangan profesional, maka ada ilmunya, ada tsaqofahnya. Intinya, tidak sama cara kita berda'wah di satu kalangan dengan kalangan lainya. Oleh karena itu, agar da'wah kita efektif dan tepat sasaran, maka kita perlu memiliki ilmu di bidang ini.
Sekarang, kita harus berpacu dan bersaing dengan berbagai kekuatan yang ada. Sudah barang tentu, para da'i dan para murobbi harus memiliki kemampuan bersaing, baik dari sisi wawasan dan maupun sisi lainnya. Maka dari itu, kriteria yang pertama dari seorang murobbi adalah dia harus memiliki tsaqofah. Kalau tidak, maka pasti dia akan tertinggal.
2. Al-Murobbi Al-mujahhaz
(Murobbi yang siap dan memang disiapkan untuk berda'wah)
Ketika kita berbicara tentang da'i dan murobbi yang profesional; Artinya da'i-da'i yang ada memang sudah disiapkan sebelumnya. Pada akhirnya nanti, da'i-da'i tersebut akan menjadi murobbi-murobbi yang benar-benar sudah disiapkan dan bukan hanya memiliki dorongan semangat saja. Semangat itu perlu, tetapi, semangat yang tidak didukung atau yang tidak dilandasi dengan pembinaan yang kuat, maka itu akan mudah luntur. Oleh karena itu, seorang murabbi harus memiliki karakter mujahhaz (siap dan disiapkan) dalam arti secara ma'nawiyah (mentalitas dan spiritual). Menjadi murobbi yang tidak pernah putus asa, yang tidak pernah mengatakan tidak dapat, dan tidak ada sesuatu yang tidak mungkin apalagi yang mustahil selama dia hidup di alam dunia dan di alam materi, tentu saja dengan ruhiyah ma'nawiyah yang siap dan kuat.
Sehingga, kapanpun, dimanapun, dan dalam kondisi apapun, sang murobbi akan terus berda'wah, baik itu dalam keadaan susah, lapang, sempit, sakit, dan udzur sekalipun, dia tetap menjalankan tugas-tugas da'wah. Karena memang telah disiapkan untuk berda'wah dan siap untuk menjalani tugas-tugas da'wah dengan berbagai konsekuensi-konsekuensi, maka tantangan-tantangan dan rintangan-rintangan serta ujian dan kendala-kendala yang akan dihadapi sudah dipahaminya. Sehingga seluruh waktunya, pemikirannya, tenaganya, potensinya, memang disiapkan untuk kemenangan da'wah.
Ketika orang itu sudah disiapkan dan siap untuk berda'wah, maka hidup dan matinya untuk berda'wah. Dalam kondisi yang paling sulit sekalipun, dia tetap hidupnya bersama da'wah.
Contohnya adalah Syaikh Ahmad Yassin. Beliau dilahirkan secara fisik tidak sempurna, namun karena memang disiapkan dan siap untuk hidup dan mati bersama da'wah, dia menjadi aktivis da'wah dan bahkan menjadi pemimpin aktivis gerakan da'wah HAMAS, gerakan Intifadhah. Meskipun secara fisik ada kendala sehingga beliau berulang kali masuk penjara, ditangkap, disiksa, dipenjara hingga pada akhir kalinya beliau masuk penjara. Akibat terlalu sering dan kuatnya siksaan, maka diapun mengalami kelumpuhan secara total pada seluruh bagian tubuhnya sehingga beliau tidak dapat berjalan, pergi kemana-mana. Untuk ke masjid saja, beliau harus menggunakan kursi roda. Makan disuapi dan ketika akan ke wc pun dipangku.
Namun, karena beliau disiapkan dan siap untuk hidup dan mati bersama da'wah, maka dia tetap tegar. Selama masih memiliki potensi, walaupun hanya dengan bicara, akal pikiran sehat tetap bergerak untuk berda'wah. Beliau pemimpin pergerakan HAMAS hingga akhir hayatnya beliau mati syahid.
Asy-Syahid Imam Hasan Al-Banna mengatakan bahwa yang layak mengemban dan memikul da'wah ini hanya orang-orang yang memberikan pembelaan terhadapnya dengan seluruh potensi yang ia miliki; mati dan hidup da'wah untuk da'wah, mau berkorban dengan harta, tenaga, waktu, kesehatan, dan lainnya karena da'wah sudah mendarahdaging dalam dirinya. Hanya orang-orang yang seperti itulah yang istiqomah dalam menjalankan tarbiyah dan da'wah hingga akhir hayatnya. Dia tidak peduli dengan apapun, meskipun ada orang yang menghujatnya, mengkritiknya, dan menghinanya. Memang seperti itulah konsekuensi da'wah; siap untuk menghadapi itu semua sebab itu semua merupakan bagian dari proses perjalanan da'wah yang harus dilewati.
Banyak para da'i atau murobbi saat ini yang menginginkan da'wah itu mudah, mulus, tidak ada yang mencaci, menghina, mengkritik, dan memusuhinya. Kalau kondisinya sudah seperti itu, buat apa kita berda'wah karena semuanya sudah kondusif? Justru, kita berda'wah karena banyak masalah yang harus kita selesaikan dan kita harus siap menghadapi itu semua.
Jangan sampai, ketika kita menjalankan tugas-tugas da'wah ini, kita hanya memilih yang mudah-mudah. Sementara itu, kita tidak sadar bahwa dalam menjalankan tugas da'wah itu penuh dengan berbagai macam ujian dan cobaan. Jangan harap kita dilempari dengan bunga-bunga melati dan minyak kasturi, dihampari dengan permadani-permadani. Justru sebaliknya, kita harus siap dilempari dengan duri-duri, dihampari dengan ranjau-ranjau yang setiap saat menjebak kita dan yang setiap saat meledak dan menjerat kita. Kita harus betul-betul siap.
Allah berfirman:
"Walaa tahinuu wa laa tahzanuu wa antumul a'launa in kuntum mukminiin".
"Janganlah merasa hina dan bersedih karena kamu lebih unggul, lebih istimewa kalau kamu beriman".
Seorang da'i atau murobbi yang siap dan memang disiapkan untuk berda'wah, mereka tida pernah putus asa, tidak pernah pesimis, meskipun menghadapi berbagai ujian dan cobaan, kendala dan masalah. Dia tidak pernah berhenti dari beraktifitas. Selalu tegar, segar, dan bugar. Dia tidak pernah menyerah, tidak pasrah dengan keadaan, dan selalu siap untuk menjalankan tugas-tugas da'wah dengan penuh kesabaran. Secara ma'nawiyah, dia kokoh dan kuat karena memang siap dan disiapkan untuk berda'wah. Selain aspek ma'nawiyah, juga dipersiapkan secara fisik. Apalagi puncak dari Islam itu adalah jihad karena jihad tidak mungkin jika kondisi kesehatannya sakit-sakitan atau bermasalah.
Olah karena itu, Allah SWT mengingatkan bahwa seluruh kekuatan untuk mencapai kemenangan da'wah itu harus dipersiapkan. Kekuatan apa saja,baik itu kekuatan mental, finansial, maupun fisik untuk menghadapi kekuatan-kekuatan lawan, dan termasuk siap berkorban untuk kepentingan da'wah. Sehingga da'wah menjadi skala prioritas. Kepentingan da'wah menjadi kepentingan nomor satu.
Janganlah kita menjadikan da'wah berada pada urutan terakhir di bawah kepentingan pribadi, anak, dan keluarga. Jangan pula memberikannya dari sisa waktu, sisa dana, dan sisa perhatian yang kemudian akan menjadikan aktifitas dan produktifitas da'wah dan tarbiyah itu menjadi lemah.
3. Mudarrob (Terlatih dan dilatih)
Karena da'wah adalah sepanjang zaman dan masa (madaa al-hayah), maka da'wah harus dilakukan oleh orang-orang yang terlatih. Dalam arti terlatih bahwa setiap murobbi, mutarobbi, kader da'wah, harus mendapatkan latihan-latihan da'wah agar memiliki keberanian dalam mencoba.
Rasa takut, gamang, tidak mampu, tidak berani, dan tidak percaya diri dan berani, semua itu harus dihilangkan. Berlatih dari hal yang kecil. Ketika belum berhasil, maka dicoba lagi dan begitulah seterusnya hingga ia dapat menguasai sebuah kafa'ah da'wah.
Oleh karena itu, bagi para aktivis da'wah, untuk menjadi murobbi yang efektif dan produktif, maka harus terus mencoba dengan berbagai cara yang memungkinkan. Jika cara yang satu belum berhasil, maka alihkan dan coba dengan cara yang lain. Begitulah seterusnya. Baru akan dikatakan terlatih jika ada latihan-latihan, ada proses latihan.
Latihan (tadrib) dapat dilakukan secara mandiri dan juga dapat dilakukan secara kolektif; Dapat dilakukan secara pribadi dan juga dapat dilakukan secara struktural yang terorganisir. Seseorang tidak mungkin dapat langsung mengendarai motor atau mobil tanpa belajar dan latihan. Begitu pula orang yang sukses dan piawai menjadi juara dalam pertandingan dan sebagainya, pasti mengalami proses latihan yang panjang dan lama.
Di antara fenomena yang ada pada kondisi saat ini adalah banyak kader-kader yang tidak mau membina, tidak memiliki halaqoh dengan alasan tidak dapat. Agar mereka mendapatkan halaqoh, maka harus melalui proses pelatihan-pelatihan yang serius dan melewati kegagalan-kegagalan. Sebab, tidak ada orang yang dilahirkan langsung menjadi juara, ahli, dan pemimpin. Dengan berlatih dan mencoba, maka kita akan terbiasa sehingga dengan demikian kita dapat menguasainya. Jangan takut gagal karena orang yang takut gagal atau salah, maka dia tidak akan pernah sukses. Begitu juga dalam da'wah dan tarbiyah.
4. Mutakhossis fii Ad-da'wah (Spesialisasi dalam da'wah)
Da'wah dan tarbiyah di era modern seperti ini harus dilakukan secara spesialisasi (mutakhossis). Sekarang ini, di seluruh bidang dan cabang, ada spesialis. Sebab, zaman sekarang adalah zaman spesialisasi, maka kita harus memilih segmen, bagian, dan bidang tertentu sehingga kita ahli pada bidang yang kita tekuni.
Kita dituntut untuk ahli atau memiliki spesialisasi terhadap bidang da'wah kita masing-masing. Harus ada yang memiliki spesialisasi da'wah di kalangan buruh, karyawan, petani, nelayan, pelajar, mahasiswa, birokrat, pengusaha, dan seterusnya. Cara seperti ini akan lebih efektif dan lebih mudah untuk memperluas jaringan da'wah.
Oleh karena itu, masing-masing kita harus mengeksplorasi kemampuan kita. Kita harus mengetahui apa yang menjadi kecenderungan (muyul) kita. Selanjutnya, kecenderungan tersebut dikembangkan sehingga kita menjadi ahli di bidang tertentu.
Asy Syahid Imam Hasan Al-Banna pun mengingatkan kita bahwa seorang kader da'wah pada era modern ini harus memiliki spesialisasi khusus yang tidak dimiliki oleh orang lain, entah itu dari sisi ilmu pengetahuan, atau dari sisi spesialisasi da'wah lainnya. Wallahu a'lam.
_________
Sumber:
Majalah Tarbiyah Edisi 9 Th. 2/ Dzulhijjah 1426 - Muharram 1427 H

Tidak ada komentar:
Posting Komentar