Selasa, 28 April 2026

Peran Naqib dalam Mihwar Jahriiah Muassasi

 


Pengelolaan kader-kader ummat Islam, dalam orientasi nukhbawiyah meliputi ruang ta’sis dan tathwir, seluruhnya melalui program tarbiyah, kalau kita lihat semua orientasi tarbiyah kita baik dilihat dari ahdaf yang ditentukan, uslub yang digariskan, uslub yang diambil seluruhnya menumbuhkan sifat-sifat yang dituntut sepuluh rukun.

Ikhwan dan akhwat fillah, berbicara tentang kepemimpinan sebenarnya dawah kita — ketika kita mulai bersyukur nikmat atas munculnya kebebasan dan impian dikalator otoriter, kemudian kita menikmati keterbukaan demokratisasi — sebenarnya dawah ini sudah mengantisipasi dengan taujih-taujih, termasuk bukan saja dalam ruang lingkup tajnid, yang merupakan tugas elemen kaderisasi sekarang, dimana tajnid pun waktu itu sudah kita jelaskan garis besarnya ada tiga, yaitu jamahiri, hizbi dan ikhwani.

Begitu juga sebagai gerakan dawah yang dari sisi landzimiah adalah nukhbawiyah, selalu menekankan pada pembinaan kader, sebagai sebuah gerakan jamahiriyah dimana kita mampu mengkomunikasikan visi, misi dan fungsi dawah kita. Sehingga masyarakat bergerak di sekitar kita, sehingga terjadilah harakah yang jamahiriyah.

Waktu menjelang ta’sis, dimunculkan daurul qiyadah fi da’wati ummah, dawah ini setiap langkahnya selalu disiapkan, direncanakan, diantisipasi. Dalam daurul qiyadah fi da’wati ummah dikemukakan bagaimana kader-kader kita bisa memerankan peran yang disebut:

  1. Peran ta’iyah, bagaimana kita menyadarkan — dalam situasi yang tiba-tiba berubah — mereka menghadapi secara sadar, sehingga tidak terombang-ambing oleh situasi dan kondisi, oleh aneka ragam tawaran-tawaran, pemikiran, ide-ide sehingga kita harapkan dari sini akan melahirkan ummah yang istiqamah.

  2. Peran taujih, peran bagaimana mengarahkan ummat ini, sebab selama 32 diarahkan menuju floating mass, yang berarti didorong untuk terjadi disorientasi, ummat yang tidak jelas orientasinya. Pada hal perintah Allah, sebelum memerintahkan fastabiqul khairat (berlomba untuk saling menegakkan kebaikan) Allah memerintahkan dulu wa fi kulli wijhatin huwa muwalliha, baru fastabiqul khairat. Harus jelas dulu orientasi ummat baru digerakkan untuk berlomba-lomba menuju kebaikan. Sebab kebaikan yang tanpa orientasi seringkali — betapapun ikhlasnya dan betapapun dengan penuh pengorbanan — dilakukan kebaikan itu tapi seringkali produk-produk kebaikan yang dihasilkan ummat Islam dimanfaatkan oleh kekuatan-kekuatan anti Islam. Maka perlu daurul taujih, bagaimana peran menyelenggarakan orientasi ummat. Sehingga insya Allah akan lahir ummat yang fastabiqul khairat-nya terarah, terorientasi secara jelas, maka lahirlah ummah wa’iyah (ummat sadar ummah yang sesama).

  3. Peran daurut tanzdim, ummat yang diarahkan menuju floating mass terjadi disintegrasi, menghasilkan ummat yang tidak tertata, semrawut, yang disebutkan sebagai ka gho-tsa’i sa’il (buih) yang disindirkan Al-Qur’an sebagai zabad fa yadz-habu jufa’a, yang semua derap perjuangannya sia-sia belaka. Ini harus kita tata potensinya, sehingga insya Allah akan lahir al ummat al mujahidah, jadi peran dari daurul qiyadah fi da’wati ummah, bagaimana menjadikan al ummat al wa’iyah, bagaimana menjadikan al ummat al istiqamah, bagaimana menjadikan al ummat al mujahidah.

Itulah garis besarnya, sehingga sekali lagi peran kader-kader dawah, ikhwan dan akhwat, adalah peran kepemimpinan seperti tadi di kalangan ummat Islam.


Ikhwan dan akhwat fillah, sudah barang tentu, dalam acara leadership training kali ini, kita menghadapi situasi yang lebih khusus, karena antum adalah para penanggungjawab kaderisasi, maka pembicaraan kepemimpinan kita lebih khusus menukik. Tapi sebelum itu, ruang lingkup yang ingin saya sampaikan bersifat normatif. Adapun yang bersifat qararat dan kebijakan sumbernya adalah Departemen Kaderisasi. Keputusan dan kebijakan yang terkait dengan kaderisasi kepemimpinan adalah, bagaimana departemen Kaderisasi menjabarkan dan menerjemahkan norma-norma dalam kerangka tadi yang meliputi strategi, teknis yang diolah oleh para fungsionaris partai dan Departemen Kaderisasi. Saya berada dalam ruang lingkup normatif bukan dalam ruang lingkup qararat dan ta’limat. Ini penting untuk meluruskan orientasi dalam berkarya. Qararat dan ta’limat sumbernya dari fungsionaris partai. Saya sendiri bukan fungsionaris partai.

Ikhwan dan akhwat fillah, saya ingin ingatkan kembali, bahwa pengelolaan kader-kader ummat Islam, dalam orientasi nukhbawiyah meliputi ruang ta’sis dan tathwir, seluruhnya melalui program tarbiyah, kalau kita lihat semua orientasi tarbiyah kita baik dilihat dari ahdaf yang ditentukan, uslub yang digariskan, uslub yang diambil seluruhnya menumbuhkan sifat-sifat yang dituntut sepuluh rukun bai’ah. Ahdaf, uslub, wasilah menuju ke sana. Untuk mengevaluasi sejauhmana sifat-sifat itu tumbuh melalui rakaiz kita, sejauhmana mafahim dan suluknya ini baku, dalam arti tak mengalami perubahan apapun dalam menghadapi perubahan mutahawwir-mahawwir kita. Sehingga tidak perlu kebingungan mau apa kita setelah muassasi. Ada perkembangan-perkembangan yang menarik dan tuntunan dan mihwar itu.

Perlu menjaga naqib, banyak istilah penerapannya terkait situasi dan kondisi. Yang penting adalah esensial. Materi-materi kenaqiban sudah banyak disalurkan, buktinya munculnya kader-kader dawah. Intinya secara umum dimana-mana ikhwan meyakini bahwa kenaqiban adalah fardhu kifayah yang bersifat umum, bukan tanzhimiy yang terkait dengan qiyadah (kepemimpinan) dan bersifat umum. Kenapa bersifat umum, karena berlaku bukan saja bagi muntazhim sebagai mas’ul usrah, tapi berlaku juga bagi muayyid sebagai murabbi. Faham kenaqiban adalah faham kepemimpinan dalam gerakan dawah.

Levelnya di segala level. Stratanya ada pada strata halaqah, usrah muntasbin, usrah muntazhim, ataupun usrah marhalah-marhalah bentuknya. Pemimpinnya itu disebutnya naqib. Ini yang dianut sekarang. Kualitas kenaqiban yang dituntut berbeda-beda untuk setiap level sesuai dengan tuntutan marhalah itu sendiri.

Itulah pemahaman umum yang ada sekarang di kalangan tarbawi. Saya katakan sampai sekarang, karena itu termasuk dalam masalah teknis tanzhimi, merupakan mutaghayyirat bukan merupakan tsawabit. Sebab gerakan dawah kita tidak mempunyai tsawabit lain, kecuali tsawabit islamiyah, dan kita tidak mempunyai mutaghayyirat lain kecuali mutaghayyirat islamiyah. Jadi dalam dawah kita tidak ada mutaghayyirat yang spesifik dan tsawabit yang spesifik dari Islam. Ikhwan dan akhwat fillah, saya ingin menempatkan naqib supaya jelas gambarannya.

Saya ingin menyentuh dua hal:

1. Ta’sis Qiyadi

Karena naqib ini adalah masalah kepemimpinan, ta’sis qiyadi adalah bagaimana dawah kita menta’sis atau menumbuhkan kader-kader kepemimpinan. Yang esensinya sudah saya sebutkan. Ta’sis qiyadi kita seluruhnya, dimanapun diselenggarakan berdasarkan upaya-upaya untuk melahirkan arkan al bai’ah al ‘asyarah. Baik dalam penentuan sasaran, pemilihan uslub, dan pemilihan wasail-nya. Untuk penilaiannya berdasarkan rakaiz infikri. Ini ujung masalah ta’sis, tak lebih dari itu, sudah barang tentu dalam penajaman dawah kita sekarang, dimana mutathalabat (tuntutan-tuntutan) zaman itu, maka saya akan lebih banyak berbicara tathwir qiyadi.

2. Tathwir Qiyadi

Karena alhamdulillah setelah hampir 20 tahun, dengan susah-capai, jerih-payah, ikhwan dan akhwat menumbuhkan kader sekitar 3.000 sebelum memasuki mihwar jahriyah muassasi. Sehingga ketika kita — setelah musyawarah — memutuskan untuk tampil sebagai partai dawah hizbi siyasi memang ada keraguan.

Bagaimana dengan 3.000 muntazhim-muntazhimat muncul jamahiriyah di tengah-tengah lautan 200 juta manusia. Itu pertanyaan yang wajar. Waktu itu dengan singkat saya jawab, bahwa partai elit tidak mempunyai sayap juta muntazhim-muntazhimat. Orangnya semua ketemu di jalan, seringkali oleh persamaan kepentingan tapi mereka bukan persamaan keyakinan, bukan persamaan idealisme, apalagi persamaan manhaj, tapi persamaan kepentingan. Kepentingannya kadang-kadang merobohkan musuh bersama, karena merasa sama-sama ditindas oleh satu sistem atau satu orang maka sama-sama kepentingan untuk melawan orang itu atau sistem itu. Mereka berani memunculkan diri secara jamahiriyah sebuah sistem perjuangan/pengerakan. Sekali lagi, mereka berani. Kita dengan kalkulasi bekal 3000 ikhwan dan akhwat dengan minimal kelipatan 10 turunannya (muwayyidin dan muayyidat), berarti ada 33.000 kader-kader itu — kita berani muncul.

Syukur alhamdulillah Allah memberikan buah yang cukup besar. Dari segi tajnid saja melalui suara yang dihimpun mencapai 1,5 juta lebih. Yang melalui ihtishal fardiyah yang dulu kita kembangkan waktu itu belum tentu berhimpun sebanyak sekarang ini. Belum lagi pengembangan struktur kita, secara geografis demikian luas, ini juga merupakan nikmat yang lebih besar.

Ada nikmat yang lebih besar lagi yaitu citra. Kita mendapatkan piala citra. Brain image kita sangat baik di kalangan kawan maupun lawan. Satu-satunya partai yang dari sana-sini banyak mengucapkan terima kasih, terutama dari kepolisian. Dan citra ini sering saya ingatkan, adalah modal besar buat kita. Seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Dimana beliau dibenci, diintimidasi dan diusir, di Mekkah tetapi semua sepakat “muhsin” adalah bahwa beliau al amin. Dengan citra al amin itulah beliau memimpin ummat Islam sampai lahirnya al khilafah al islamiyah.

Nabi Yusuf a.s di Mesir pun dipenjara, dihina dan dihinakan, tetapi ketika Mesir ditimpa krisis, ketika mencari orang yang dapat menganalisis dan memberikan solusi menghadapi keadaan yang melimpit itu mereka mengatakan solusinya adalah Yusuf, yang dipenjarakan. Lalu fir’aun mengutus utusannya dan alasan mereka di depan Yusuf as: “kenapa mereka minta bantuan analisis dan solusi dari Yusuf”, menurut mereka “in naa lil muhsinin”, kami melihat anda orang yang baik tapi dipenjarakan, tapi citra “muhsin” itulah yang mengantar Yusuf menuju “khazaainil ardhi”...

Jadi ikhwan dan akhwat fillah, alhamdulillah langkah pembelajaran kita, alhamdulillah ikhwan dan akhwat bekalnya sangat serius, dan memang selalu begitu. Cuma sayang lupa bahwa dia sedang belajar. Secara politis kemarin kita kan sedang belajar. Hasil orang yang belajar. Rata-rata terbesar diantara 42 partai. Dan masuk 7 dari partai-partai besar. Saya tidak bicara kalimat kecil, karena dawah selalu besar. Mencapai ranking 7, itu sudah luar biasa.

Belajarlah yang mempunyai kekayaan sejarah panjang, yang mempunyai basis massa tradisional yang jauh lebih besar, dan semua ini wa maa an-nashru illa min ‘indillah dan pertolongan Allah datangnya — insya Allah — dan keikhlasan ikhwan dan akhwat fillah dalam beramal.

Tuntutan dalam mihwar muassasi (era jahriyah jamahiriyah bukan mihwar siyasah, bukan era kepartaian) karena siyasah fiqh minal furu’ ad dawah, sehingga siyasah tidak bisa menjadi poros. Tuntutan keluar untuk menampakkan visi dan misi dawah kita. Mengarahkan jamahiriah kita menuju arah yang benar, menuju tujuan yang benar. Tuntutan tathwiriyah secara normatif — setelah saya berbicara ta’sis qiyadi — yang merupakan pengingatan kembali langkah yang sudah antum tempuh dalam maraji’ khazanah dawah kita, menyebutkan ruang lingkup tathwir qiyadi, yang harus kita tempuh itu meliputi:

Adanya al qudrah adz-dzatiyah

(potensi/kemampuan pribadi/individu/manusianya).

Kenapa, karena kekayaan dawah selamanya adalah pada SDM-nya, bukan gedung atau mobil, atau tabungannya, atau perusahaannya. Kekayaan dawah selain SDM seperti kekayaan, ilmu, rumah, mobil, gedung dan seterusnya itu ikutan. Dimana kita mencetak salah satunya kader-kader yang mempunyai sikap totalitas atau tajarrud dimana ia membawa seluruh potensinya yang ia miliki untuk dawah.

Ikhwan dan akhwat fillah, dalam tathwir qiyadi ini yang pertama adalah tathwir al qudrah adz dzatiyah, yang meliputi:

a. Tathwir Al Qudrah Ruhiyah/Ma’nawiyah

Kemampuan ruhiyah, moralitasnya. Sasaran yang ingin kita capai dalam qudrat ruhiyah dari setiap individu adalah sebagai berikut:

Terbentuknya sebuah tawazun al athifi

(keseimbangan moral).

Keseimbangan moral ini baru tercapai kalau jiwa manusia, atau ruh manusia atau hati manusia, dihubungkan dengan Allah Swt., hubungannya kuat, dan bangunan hubungan dengan Allah bisa dibangun melalui “alaqatu ubudiyah” sebagai ruhiyah. Sehingga melalui upaya pendekatan diri kepada Allah baik secara kuantitas maupun kualitas, insya Allah secara “attiveness” moral seimbang. Ketika menghadapi tantangan situasi dan kondisi ia tidak terpengaruh. Digambarkan dalam Al-Qur’an “famaa wahanuu limaa ashaabahum fii sabiilillah, wa maa dlu’ufuu wa mastakaanuu...” Situasi apapun, kondisi apapun, perkembangan apapun yang dihadapi tidak membuat lemah moral, lemah fisik ataupun lemah aktivis. Ia tetap di jalan Allah, di jalan yang benar. Orang yang athifiyahnya tawazun insya Allah akan muncul sifat tsabat yang berikutnya yaitu lahirnya keistiqamahan. Kalau diri katakan orang istiqamah tapi gampang menghadapi situasi dan perkembangan, itu sebetulnya tidak istiqamah. Jadi istiqamah itu stabil. Jadi keseimbangan atifi akan memunculkan keistiqamahan yang tidak tergoncang oleh situasi dan kondisi.

Adanya Al Istiqamah

Tidak mudah diombang-ambingkan situasi. Konsisten sehingga tidak mudah terombang-ambing. Karena istiqamah, orang itu memiliki azimah yang utuh. Tajrid, azamta fa tawakkal ‘alallah ibadahnya utuh. Sebab kalau sudah kehilangan azimah akan kehilangan inisiatif, kehilangan kreativitas, dan kehilangan dinamika. Vitalitas dan sifat energiknya hilang.

Adanya Syaja’ah

Syaja’ah ini selalu dipelihara, betapapun dawahwah kita sering memunculkan keputusan-keputusan yang disebut ZAS (zhuruf ammah siyabah). Tapi saya selalu mengingatkan bahwa ZAS tidak mengakibatkan terhentinya aktivitas, sebab kalau keadaan sulit menghentikan aktivitas, ikhwan dan akhwat tidak terlatih menghadapi tantangan berat dan menghadapi kesulitan, yang akhirnya dalam keadaan kemudahan pun juga tidak bisa bekerja. Karena akibat menghentikan aktivitas di masa sulit, ketika ada kemudahan dan keterbukaan menjadi tidak berani tampil, selalu takhawuf (takut). Padahal banyaknya perumpamaan takhawuf adalah teman pekerjaan syaitan, kata Al-Qur’an: “...isy syaithanu yukhawwifu awliyaa’ahu...” Maka peran dari pengembangan qudrah ruhiyah ini, adalah membuat ikhwan dan akhwat penuh saja’ah.

Adanya rasa mas’uliyah

Bukan keberanian yang rasa tanggung jawab tetapi keberanian yang dilandasi tanggung jawab. Baik mas’uliyah yang ruang lingkupnya umum — ijtima’iyah atau insaniyah sifatnya — atau ruang lingkup yang lebih khusus lagi, (islamiyah), atau yang ruang lingkupnya tanzhimiah.

Itulah ruang lingkup qudrat ruhiyah yang selalu terus dikembangkan apalagi dalam situasi sekarang ini, selalu mendorong kita melalui mihwar jahri’ah muassasi ini, setiap langkah perbuatan kita berupa statement, sikap dan langkah-langkah, serta program-program kita selalu harus dibentuk dan dua sisi pertama perhitungan melalui hubungan dengan Allah SWT, dan kedua dalam ruang lingkup hablu minannas, dengan apa yang disebut dengan muhasabah, atau public accountability dan public responsibility. Bagaimana publik akan merespon kita dan memuhasabah kita. Setelah melalui perhitungan dengan Allah SWT, melalui muraqabatillah kita, insya Allah dengan adanya kekuatan ruhiyah ini, dalam menggulirkan program-program kita, bisa dihadapi dengan wajar.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Peran Naqib dalam Mihwar Jahriiah Muassasi

  Pengelolaan kader-kader ummat Islam, dalam orientasi nukhbawiyah meliputi ruang ta’sis dan tathwir, seluruhnya melalui program tarbiyah, ...