الۤرٰۗ كِتٰبٌ اُحْكِمَتْ اٰيٰتُهٗ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَّدُنْ حَكِيْمٍ خَبِيْرٍۙ ١
اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّا اللّٰهَۗ اِنَّنِيْ لَكُمْ مِّنْهُ نَذِيْرٌ وَّبَشِيْرٌۙ ٢
"Alif Lām Rā. (Inilah) Kitab yang ayat-ayatnya telah disusun dengan rapi kemudian dijelaskan secara terperinci (dan diturunkan) dari sisi (Allah) Yang Mahabijaksana lagi Mahateliti.
(Katakanlah Nabi Muhammad,) “Janganlah kamu menyembah (sesuatu), kecuali Allah. Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira dari-Nya untukmu."
“Rambutku menjadi beruban, karena surat Hud dan saudara-saudaranya…,” ucap Rasulullah saw. suatu ketika.
Surat Hud, diturunkan tatkala kelompok kecil mu’minin di Makkah mengalami kesulitan yang semakin mencekam. Dunia seolah menjadi gelap. Kewaspadaan dan kekhawatiran menyusup dalam dada kaum mu’minin.
Betapa kematian paman Rasul Abdul Muthalib dan ummul mu’minin Khadijah, yang banyak memberi dukungan moral dan material bagi awal perjalanan da’wah Islam, semakin memunculkan keberanian kaum kafir Quraisy bertindak sewenang-wenang kepada Rasul dan para sahabat. Masa stagnasi da’wah, demikian sebut Sayyid Quthb. Selama masa itu, barisan muslimin tidak bertambah, tak ada orang kafir yang menjadi pemeluk Islam.
Sunnatullah dalam da’wah. Dalam situasi demikian, Allah swt. menuntun serta memantapkan hati mereka melalui hamparan kisah perjuangan berat para Nabi sebelum Rasulullah saw. Bagaimana kualitas pengorbanan dan kesabaran mereka, para pembela risalah tauhid, yang juga diperjuangkan Muhammad saw dan para sahabatnya, dalam menghadapi berbagai umpatan, pelecehan dan makar kaum kafir. Unsur kisah, dalam surat Hud, mungkin bisa dikatakan sebagai batang atau inti surat ini.
Dari hamparan kisah para Nabi tersebut, disimpulkan bahwa jalan da’wah ilallah, memperjuangkan misi tauhid, selamanya tak pernah luput dari ujian berat. Panjang, penuh liku, dan berhampar duri. Allah swt. menurunkan bentuk-bentuk tantangan dan cobaan tersebut, untuk memilih di antara hamba-Nya, yang paling mampu bersabar dan tetap melanjutkan jihad. “Sesungguhnya dagangan Allah itu mahal. Sesungguhnya dagangan Allah itu adalah surga.”
Bukti mu’jizat dan tantangan. Beberapa ayat pembuka surat Hud, sebagai pelajaran pertama dalam surat ini, menjadi jembatan pengantar hamparan kisah-kisah para Nabi. Isinya menanam dan mengokohkan esensi ‘aqidah tauhid.
“Alif laam raa…” (QS. Hud: 1)
Tidak ada hadits Nabi shahih yang menerangkan arti huruf-huruf tersebut. Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Huruf-huruf potongan itu tertutup untuk ditafsirkan.” Meskipun demikian, ada pula beberapa ulama yang menafsirkannya. Ibnu Abbas misalnya, mengatakan arti huruf alif, laam raa, adalah Analallahu ara. Artinya Aku Allah, Aku Melihat.
Sayyid Quthb, dalam Dzilaal, lebih menekankan urgensi dan nilai huruf-huruf tersebut diletakkan awal surat. Sebagai mu’jizat sekaligus tantangan bagi para kaum kafirin Quraisy. “Bahwa al-Qur’an yang mereka dustai itu, sebenarnya terdiri dari huruf-huruf yang sudah mereka ketahui, tapi mereka tidak mampu membuat yang sebanding dengan al-Qur’an.”
Bahan bakunya sama. Untuk membuktikan keahlian seseorang tentang sesuatu, layaknya disediakan bahan baku yang sama, untuk kemudian dibandingkan hasil produksi satu sama lain. Keahlian seseorang akan nampak, bila mereka diberi bahan baku yang sama. Contoh, bila kita ingin mengetahui skill beberapa orang tukang tenun, kita tidak dapat menilai kemampuan mereka, bila kita memberi sutera pada satu orang, sedangkan yang lain diberi kain katun atau goni.
Di sini, pertama Allah hendak menegaskan bahwa al-Qur’an tidak berbeda di segi bahasa, bahan bakunya (huruf dan bahasanya), sama dengan yang dipakai manusia, bahkan persis seperti bahasa yang digunakan mereka. Kata-kata dalam al-Qur’an bisa diucapkan siapa saja, yang bodoh atau yang terpelajar. Tetapi manusia tetap tidak berdaya meniru al-Qur’an. Di sinilah sangat menonjol, perbedaan antara qudrat Allah dan qudrat manusia.
Bunyi ayat berikutnya, adalah penegasan Allah swt., lebih spesifik tentang keistimewaan al-Qur’an, “…(inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu.” (QS. Hud: 1)
Mujahid, Qatadah dan Ibnu Jarir, sebagaimana dikutip dalam tafsir Ibnu Katsir, menyebutkan arti kalimat uhkimat ayatuhu tsumma fussilat, dalam ayat ini, bahwa lafadz-lafadz al-Qur’an itu tertera rapi, kandungannya detail. Sayyid Quthb, dalam fi Dzilaalil Qur’an, menjelaskan kalimat tersebut menunjukkan al-Qur’an memiliki kekuatan membangun, bukti yang rinci. Semua kalimat dan ungkapan di dalamnya, semua kandungan dan arahan yang dikehendakinya, juga semua kecenderungan dan orientasi al-Qur’an, seluruhnya mempunyai tujuan yang jelas. Serasi, satu sama lain tidak ada berselisih dan tidak ada yang bertentangan.
Tak hanya itu, tapi “tsumma fussilat”, ayat-ayat al-Qur’an tersebut lalu diklasifikasi sesuai maksud dan diletakkan sesuai temanya.
Tauhid, misi utama para Anbiya. Siapa yang menata dan menyusunnya dengan rapi? Siapa yang membaginya dengan pembagian yang sangat rinci? Jawabannya ada pada kelanjutan ayat, “…Yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu.” (QS. Hud: 1)
Lalu apa kandungan al-Qur’an? Ayat berikutnya menyebutkan, “Agar kamu tidak menyembah selain Allah…” (QS. Hud: 2)
Dari sini, pembicaraan tentang kewajiban mentauhidkan Allah diarahkan lebih tegas. Setelah uraian tentang keindahan dan keistimewaan al-Qur’an yang tak ada bandingnya, hingga menjadikan manusia tunduk tawadhu’ di hadapan kebenaran, kekuatan yang Maha Agung, dan Maha Kuasa, Allah swt., maka tak pantas manusia yang syirik kepada Allah. Tak ada yang patut dibanggakan dan disombongkan dari sosok manusia yang amat lemah di hadapan kekuatan Allah swt. Inilah misi utama para Nabi dan Rasul, menanamkan dan memperjuangkan kewajiban tauhidullah, dengan konsekuensi apapun.
Tauhid, yaitu mengarahkan, mempersembahkan, merujuk semua perilaku dan kebijakan sebagaimana kehendak Allah swt. Tauhid, adalah kepasrahan pada Allah swt. semata, disebutkan oleh Sayyid Quthb sebagai, “…persimpangan jalan yang membedakan antara jalan kehidupan yang tidak teratur dan jalan kehidupan yang teratur.” (Sayyid Quthb, Dzilaal, 1852)
Manusia, selamanya tetap memerlukan tauhid. Di mana dan kapanpun. Kecenderungan syirik atau berpihak pada selain Allah, berarti kesesatan dan kehancuran.
Allah swt berfirman, “…tidak ada yang berhak menentukan hukum kecuali Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia.” (QS. Yusuf: 40)
“…Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku hanya diperintahkan untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan Dia.’” (QS. ar-Ra’d: 36)
Titik konfrontasi Rasul dan para pendusta Tauhid. Tetapi, tak seluruh manusia mengakui kemampuan mereka yang serba terbatas, lemah dan rendah di hadapan al-Haq. Kesombongan dan hawa nafsu manusia sering menghapus semua kelemahan yang melekat pada diri mereka. Karenanya, misi para Nabi hingga Rasulullah saw. dalam menyebarkan tauhidullah banyak dikonfrontasi dan diwarnai penolakan. Dari bentuk penghinaan hingga pembunuhan. Bentuk-bentuk ujian itu dialami oleh Rasulullah dan para sahabatnya yang masih dalam jumlah minoritas di Makkah.
Nabi Nuh as. menyampaikan tauhid pada kaumnya. Simak perkataan dan penolakan kaum beliau terhadap da’wah tauhid, yang tanpa dukungan argumentasi tapi lebih cenderung membabi buta.
“Mereka berkata, ‘Ya Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami. Maka datangkanlah adzab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.’” (QS. Hud: 32)
Sambungan ayat berikutnya, “Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira kepadamu daripada-Nya.”
Dalam tafsir Ibnu Katsir dikaitkan dengan tindakan Rasulullah, dalam hadits shahih, di masa-masa awal da’wah tauhid. Beliau menaiki bukit Shafa. Lalu memanggil para pemuka dan kaum Quraisy. “Wahai kaum Quraisy, bagaimana pendapat kalian bila aku beritakan bahwa ada pasukan yang akan menyerang kalian. Apakah kalian percaya kepadaku?” kata Rasulullah saw. Orang-orang Quraisy menjawab, “Kami belum pernah mengetahui anda berlaku dusta.” Lalu Rasul berkata, “Sesungguhnya aku adalah pembawa berita ancaman dan berita gembira (dari Allah) bagi kalian.” Tapi kemudian mereka mendustainya.








