Rabu, 14 Januari 2026

7 Cara Mempertahankan dan Memperkuat Tsabat

 

Tsabat di jalan dakwah / sumber: PKS Bengkulu


"Yang saya kehendaki dengan Tsabat (keteguhan) adalah setiap kita (dai) hendaknya senantiasa bekerja sebagai mujahid di jalan yang mengantarkan kepada tujuan, betapa pun jauh jangkauan dan lama waktunya, sehingga bertemu dengan Allah dalam keadaan demikian, sedangkan ia telah berhasil mendapatkan salah satu dari dua kebaikan, yaitu meraih kemenangan atau syahid di jalan-Nya." (Risalah Ta’lim – Hasan Al-Banna)

 

Kalimat di atas Adalah pesan Hasan Al-Banna untuk kader-kader Ikhwanul Muslimun – organisasi yang didirikannya di Mesir, tahun 1928 – dalam menapaki terjalnya jalan dakwah ilallah.

 

Bahkan, Tsabat ini ditempatkan di nomor tujuh dari sepuluh rukun komitmen dalam dakwah. Berkaitan dengan sikap Tsabat ini, beliau menjadikan firman Allah SWT Sebagian acuannya,

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya).” (QS. al-Ahzab [33]: 23).

 

Tidak mudah memang untuk memiliki sikap Tsabat ini. Begitupun cara untuk mempertahankannya, karena, banyak hal bisa menurunkan – atau menghilangkan – sikap Tsabat ini.

 

Setidaknya, ada 7 cara yang harus diperhatikan seorang kader (aktivis) dakwah untuk mempertahankan dan memperkuat sikap Tsabat.

 

1. ad-Du’a

 

Ketika Syahr bin Hawsyab bertanya kepada Ummul Mukminin, Ummu Salamah, “Wahai Ummul Mukminin, doa apakah yang paling sering diucapkan Rasulullah saat beliau berada di sisimu?”

Ummu Salamah menjawab, “Yang sering dibaca oleh Rasulullah Adalah ‘Yaa muqollibal quluub tsabit qolbi ‘ala diinik (Wahai Zat Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agamaMu)’.

 

Sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya hati anak cucu Adam lebih cepat perubahannya dari panci yang berisi air mendidih.” (HR. Ahmad), menjadi salah satu alasan beliau selalu mengucapkan doa di atas.

Kalau Rasulullah SAW saja selalu berdoa, memohon kepada Allah SWT, untuk bisa Tsabat, maka apalagi kita?

 

2. Tadabburul Quraan

 

Sumber Tsabat – dan juga hidayah – Adalah al-Quran. Di dalamnya banyak kisah para nabi dan rasul serta kaumnya yang bisa menjadi pelajaran dan sumber motivasi untuk menjaga dan mempertahankan Tsabat.

Dengan selalu mengkaji dan mendalami makna kandungan al-Quran, kita akan diberi Tsabat oleh Allah SWT.

وَكُلًّا نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنۢبَآءِ ٱلرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِۦ فُؤَادَكَ

“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu.” (QS. Hud: 120)

 

3. Husnu Shilah Billah

 

Selalu menjaga hubungan baik dengan Allah SWT akan menambah dan memperkuat Tsabat. Sebagaimana firman-Nya,

وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ ٱقْتُلُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ أَوِ ٱخْرُجُوا۟ مِن دِيَٰرِكُم مَّا فَعَلُوهُ إِلَّا قَلِيلٌ مِّنْهُمْ ۖ وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا۟ مَا يُوعَظُونَ بِهِۦ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا

Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: "Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu", niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka).” (QS. an-Nisa: 66)

 

4. Tatsbiit min Qibali Shaalihiin

 

Tsabat juga sangat dipengaruhi lingkungan, terutama dari orang-orang yang dekat dengan kita. Sehingga, selalu berdekatan dengan orang-orang saleh, yang teruji Tsabat-nya, adalah hal yang mutlak dilakukan.

Persaudaraan dalam kebaikan ibarat nafas dalam perjuangan yang penuh rintangan dan tantangan. Nabi Musa pun memohon kepada Allah SWT agar diberikan saudara dalam dakwahnya.

Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah kekuatanku dengan adanya dia, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, agar kami banyak bertasbih kepada-Mu, dan banyak mengingat-Mu.” (QS. Thoha: 29-34)

 

5. at-Tarbiyah Ash-Shahihah

 

Tsabat adalah hasil, dan sekaligus indicator benarnya proses tarbiyah. Proses tarbiyah yang benar akan menghasilkan kader-kader yang memiliki Tsabat yang kuat.

Sikap mudah goyah, mudah ragu, gampang terpengaruh, Adalah tanda-tanda kelemahan dalam proses tarbiyah.

 

6. ats-Tsabat bi Nashrillah

 

Surat al-Qashash turun untuk meletakkan timbangan yang benar antara kekuatan dan nilai. Ada satu kekuatan yang sangat berpengaruh pada alam ini, yaitu kekuatan Allah SWT. Ada satu nilai di dalam alam ini, yang sangat besar pengaruhnya, yaitu nilai keimanan.

Surat al-Qashash turun menegaskan dan memantapkan hakikat-hakikat yang konstan itu di setiap zaman. Bahhwa kemenangan tak harus datang beriringan dengan jumlah dan kekuatan. Bahwa kemenangan datang karena Allah yang menurunkannya. Dialah Yang Maha Memenangkan hamba-Nya. Barangsiapa yang memiliki kekuatan Allah SWT, maka taka da lagi ketakutan yang dirasakan.

Selalu yakin dengan pertolongan Allah SWT akan mempertahankan dan menambah sikap Tsabat. Begitupun sebaliknya.

 

7. al-Khauf min Su’ul Khatimah

 

Hidup kita sekarang berada dalam situasi qashru zaman al-mutaah lil ‘amal shalih (pendek waktu tersisa untuk amal saleh).

Hidup terasa singkat. Perasaan belum lama kita meninggalkan bulan Ramadhan, sekarang sudah hampir bulan Ramadhan lagi. Perasaan baru kemarin kita berkumpul di acara pekanan, besok sudah saatnya untuk berkumpul lagi.

Kematian bisa datang kapan saja dan di mana saja. Na’udzubillah mindzalik kalau saat kita berpaling – merasa sebentar – dari syariat Allah, dari jalan dakwah, saat itu ajal kita tiba.

 

Tsabat merupakan buah dari keimanan yang mengakar dalam hati, yang diucapkan secara lisan, dan dibuktikan dalam langkah perjuangan.

Semoga kita termasuk orang-orang yang disebutkan dalam firman Allah SWT,

يُثَبِّتُ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِٱلْقَوْلِ ٱلثَّابِتِ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” (QS. Ibrahim: 27)

 

 

<Sumber: Majalah Relung Tarbiyah, Edisi 14 Thn.2>


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kriteria Murobbi yang Produktig

  Di antara fenomena yang ada dikalangan aktivis da'wah saat ini adalah lemahnya aktifitas da'wah dan tarbiyah serta menurunnya prod...