Rabu, 11 Februari 2026

ILTIZAM: KOMITMEN HIDUP SEORANG KADER DAKWAH

 


Dalam perjalanan seorang muslim — terlebih bagi mereka yang memilih jalan dakwah dan kehidupan berjama’ah— istilah iltizam bukanlah kata asing. Namun, sering kali iltizam hanya dipahami sebatas “ikut kegiatan”, “aktif”, atau “patuh secara formal”. Padahal, iltizam jauh lebih dalam dari itu. Ia adalah fondasi ruhiyah, intelektual, dan amaliyah yang menentukan kualitas keberislaman dan keberjama’ahan seseorang.

Tanpa iltizam, amal akan rapuh, semangat mudah naik turun, dan perjuangan kehilangan daya tahan. Sebaliknya, dengan iltizam yang kokoh, seorang muslim mampu bertahan, bergerak, dan berkontribusi secara konsisten, meskipun dalam kondisi sulit dan penuh ujian.

 

Pengertian Iltizam

Secara lughawi, iltizam berasal dari kata luzum, yang bermakna tetap, melekat, dan konsisten (tsabata wa daama). Akan tetapi, iltizam bukan sekadar konsistensi yang bersifat mekanis. Iltizam memiliki nilai tambah berupa kesadaran dan pilihan sadar.

Iltizam adalah komitmen dzati, yaitu komitmen yang lahir dari dalam diri, bukan karena paksaan, tekanan eksternal, atau sekadar formalitas struktural. Jika seseorang bergerak karena disuruh, dipaksa, atau takut sanksi, maka hakikatnya ia belum beriltizam, melainkan berada dalam kondisi malzum.

Dalam makna yang lebih luas, iltizam juga identik dengan istiqomah, yakni keteguhan untuk terus berada di jalan kebenaran. Oleh karena itu, Al-Qur’an dan Sunnah banyak menekankan pentingnya istiqomah sebagai indikator keimanan yang hidup.

Dengan demikian, iltizam yang ideal adalah komitmen sadar yang dilandasi ilmu, pemahaman, dan keyakinan, lalu diwujudkan dalam amal yang konsisten.

 

Iltizam sebagai Buah Pemahaman Islam Kaffah

Iltizam tidak mungkin tumbuh tanpa pemahaman Islam yang menyeluruh (kaffah). Islam tidak boleh diposisikan sekadar sebagai simbol atau identitas, tetapi harus menjadi:

·         cara berpikir,

·         tolok ukur nilai,

·         dan sumber rujukan dalam menyikapi kehidupan.

Fathi Yakan menjelaskan bahwa iltizam adalah komitmen total terhadap Islam, menjadikan Islam sebagai siklus kehidupan dan titik tolak dalam setiap persoalan. Inilah yang diperintahkan Allah dalam QS. Al-Baqarah: 208 agar seorang muslim masuk ke dalam Islam secara menyeluruh.

Ketika pemahaman melemah, kesadaran pun ikut menurun. Akibatnya, seseorang mudah larut dalam qadhaya dakhiliyah, sibuk dengan urusan pribadi, sementara kewajiban dakwah dan tanggung jawab jama’ah terasa berat. Dalam kondisi seperti ini, produktivitas (intaj) menjadi rendah dan pergerakan harus terus didorong dari luar.

Sebaliknya, bila iltizam dibangun di atas pemahaman yang benar, maka arahan yang global pun sudah cukup untuk membuat seseorang bergerak dengan kesadaran penuh.

 

Tingkatan Penerimaan Iman

Imam Hasan Al-Banna membagi manusia dalam tiga kelompok berdasarkan pemahaman dan penghayatan iman:

·         Kelompok iman dogmatis, yang menerima Islam tanpa pemahaman mendalam. Iman kelompok ini rapuh dan mudah goyah.

·         Kelompok iman rasional, yang menerima Islam berdasarkan logika dan dalil. Keyakinannya kuat, namun amalnya belum selalu konsisten.

·         Kelompok iman integral, yang memadukan iman, pemahaman, dan ketaatan. Inilah kelompok yang iltizamnya kokoh dan amalnya nyata.

Iltizam sejati lahir dari kelompok ketiga, karena iman tidak berhenti pada keyakinan, tetapi melahirkan amal shaleh yang terus dijaga.

 

Indikasi-Indikasi Iltizam

Iltizam dapat dikenali melalui dua indikator utama:

1. Indikator Lahiriah

Iltizam harus tampak dalam perilaku nyata, seperti:

·         komitmen terhadap shalat berjama’ah,

·         menjaga aurat,

·         keterlibatan aktif dalam aktivitas dakwah dan jama’ah.

Indikator lahiriah ini bukan untuk menghakimi, tetapi sebagai tanda keseriusan dalam menjalani Islam secara nyata.

 

2. Muraqabah Dzatiyah

Lebih dalam dari indikator lahiriah adalah muraqabah dzatiyah, yaitu kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi. Dengan muraqabah ini, amal tetap terjaga meskipun:

·         tidak ada yang melihat,

·         tidak mendapat pujian,

·         atau bahkan menghadapi tekanan dan celaan.

Inilah benteng dari riya, nifaq, dan kamuflase amal.

 

Urgensi Iltizam dalam Kehidupan Jama’ah

Dalam kehidupan berjama’ah, iltizam adalah syarat mutlak. Ahdaf jama’ah tidak akan tercapai tanpa junud yang memiliki:

·         tha’at,

·         iltizam,

·         dan jiddiyah.

Hasan Al-Banna menegaskan bahwa kesiapan seseorang memasuki fase takwini dan tarbawi diukur dari ketaatannya yang sempurna (atha’at kamilah). Bahkan seorang yang sangat wara’ sekalipun, jika tidak mau beriltizam, tidak dapat disebut sebagai ’adha jama’ah.

Kualitas seorang anggota jama’ah sejatinya diukur dari kualitas iltizamnya, bukan semata dari kapasitas intelektual atau popularitasnya.

 

Dua Bentuk Iltizam

1. Iltizam terhadap Syariat

Iltizam ini meliputi:

·         Aqidah salimah, iman yang murni dari syirik dan nifaq;

·         Ibadah salimah dan istimrar;

·         Akhlaq hamidah sebagai wujud Al-Qur’an yang hidup;

·         Dakwah wal jihad sebagai ekspresi tanggung jawab sosial;

·         Syumul wa tawazun, yakni keseimbangan dalam seluruh aspek kehidupan.

Islam menolak sikap berlebihan dan kelalaian sekaligus. Seorang muslim dituntut adil terhadap dirinya, masyarakat, dan Rabb-nya.

 

2. Al-Iltizam Bil Jama’ah

a. Iltizam terhadap Bai’ah

Bai’ah adalah akad kesetiaan yang mengikat hati dan amal. Sekali bai’ah diikrarkan, maka ia menjadi komitmen seumur hidup.

b. Iltizam terhadap Ansyithah

Komitmen mengikuti seluruh kegiatan jama’ah, baik yang bersifat dakhiliyah maupun kharijiyah, dengan kesungguhan dan semangat.

c. Iltizam terhadap Wadhifah

Setiap tugas adalah amanah. Bukan tugas yang menyesuaikan diri dengan kita, melainkan kitalah yang harus menyesuaikan diri dengan tugas.

d. Iltizam terhadap Infaq

Infaq adalah bukti kejujuran iman dan kesediaan berkorban demi dakwah.

e. Iltizam terhadap Qaranat

Disiplin terhadap aturan jama’ah mencerminkan kedewasaan dan kesiapan berjama’ah.

f. Iltizam terhadap Taat kepada Pemimpin

Ketaatan dalam koridor syariat adalah fondasi kekuatan jama’ah dan penjamin kesatuan barisan.

 

Penutup

Iltizam adalah ruh perjuangan. Ia bukan sekadar aktivitas, melainkan kesadaran hidup. Dari iltizam yang kokoh akan lahir pribadi insan mutakamil yang mampu menjaga konsistensi ibadah, dakwah, dan pengabdian dalam jama’ah.

anpa iltizam, perjuangan akan rapuh. Dengan iltizam, dakwah akan tetap hidup—meski pelakunya silih berganti.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ILTIZAM: KOMITMEN HIDUP SEORANG KADER DAKWAH

  Dalam perjalanan seorang muslim — terlebih bagi mereka yang memilih jalan dakwah dan kehidupan berjama’ah— istilah iltizam bukanlah kata a...