Dalam perjalanan seorang muslim — terlebih bagi mereka yang memilih jalan dakwah dan kehidupan berjama’ah— istilah iltizam bukanlah kata asing. Namun, sering kali iltizam hanya dipahami sebatas “ikut kegiatan”, “aktif”, atau “patuh secara formal”. Padahal, iltizam jauh lebih dalam dari itu. Ia adalah fondasi ruhiyah, intelektual, dan amaliyah yang menentukan kualitas keberislaman dan keberjama’ahan seseorang.
Tanpa iltizam, amal akan
rapuh, semangat mudah naik turun, dan perjuangan kehilangan daya tahan.
Sebaliknya, dengan iltizam yang kokoh, seorang muslim mampu bertahan, bergerak,
dan berkontribusi secara konsisten, meskipun dalam kondisi sulit dan penuh ujian.
Pengertian Iltizam
Secara lughawi, iltizam
berasal dari kata luzum, yang bermakna tetap, melekat, dan konsisten (tsabata
wa daama). Akan tetapi, iltizam bukan sekadar konsistensi yang bersifat
mekanis. Iltizam memiliki nilai tambah berupa kesadaran dan pilihan sadar.
Iltizam adalah komitmen
dzati, yaitu komitmen yang lahir dari dalam diri, bukan karena paksaan, tekanan
eksternal, atau sekadar formalitas struktural. Jika seseorang bergerak karena
disuruh, dipaksa, atau takut sanksi, maka hakikatnya ia belum beriltizam,
melainkan berada dalam kondisi malzum.
Dalam makna yang lebih
luas, iltizam juga identik dengan istiqomah, yakni keteguhan untuk terus berada
di jalan kebenaran. Oleh karena itu, Al-Qur’an dan Sunnah banyak menekankan
pentingnya istiqomah sebagai indikator keimanan yang hidup.
Dengan demikian, iltizam
yang ideal adalah komitmen sadar yang dilandasi ilmu, pemahaman, dan keyakinan,
lalu diwujudkan dalam amal yang konsisten.
Iltizam sebagai Buah
Pemahaman Islam Kaffah
Iltizam tidak mungkin
tumbuh tanpa pemahaman Islam yang menyeluruh (kaffah). Islam tidak boleh
diposisikan sekadar sebagai simbol atau identitas, tetapi harus menjadi:
·
cara berpikir,
·
tolok ukur nilai,
·
dan sumber rujukan dalam menyikapi
kehidupan.
Fathi Yakan menjelaskan
bahwa iltizam adalah komitmen total terhadap Islam, menjadikan Islam sebagai
siklus kehidupan dan titik tolak dalam setiap persoalan. Inilah yang
diperintahkan Allah dalam QS. Al-Baqarah: 208 agar seorang muslim masuk ke
dalam Islam secara menyeluruh.
Ketika pemahaman melemah,
kesadaran pun ikut menurun. Akibatnya, seseorang mudah larut dalam qadhaya
dakhiliyah, sibuk dengan urusan pribadi, sementara kewajiban dakwah dan
tanggung jawab jama’ah terasa berat. Dalam kondisi seperti ini, produktivitas
(intaj) menjadi rendah dan pergerakan harus terus didorong dari luar.
Sebaliknya, bila iltizam
dibangun di atas pemahaman yang benar, maka arahan yang global pun sudah cukup
untuk membuat seseorang bergerak dengan kesadaran penuh.
Tingkatan Penerimaan Iman
Imam Hasan Al-Banna
membagi manusia dalam tiga kelompok berdasarkan pemahaman dan penghayatan iman:
·
Kelompok iman dogmatis, yang menerima
Islam tanpa pemahaman mendalam. Iman kelompok ini rapuh dan mudah goyah.
·
Kelompok iman rasional, yang menerima
Islam berdasarkan logika dan dalil. Keyakinannya kuat, namun amalnya belum
selalu konsisten.
·
Kelompok iman integral, yang memadukan
iman, pemahaman, dan ketaatan. Inilah kelompok yang iltizamnya kokoh dan
amalnya nyata.
Iltizam sejati lahir dari
kelompok ketiga, karena iman tidak berhenti pada keyakinan, tetapi melahirkan
amal shaleh yang terus dijaga.
Indikasi-Indikasi Iltizam
Iltizam dapat dikenali
melalui dua indikator utama:
1. Indikator Lahiriah
Iltizam harus tampak
dalam perilaku nyata, seperti:
·
komitmen terhadap shalat berjama’ah,
·
menjaga aurat,
·
keterlibatan aktif dalam aktivitas dakwah
dan jama’ah.
Indikator lahiriah ini
bukan untuk menghakimi, tetapi sebagai tanda keseriusan dalam menjalani Islam
secara nyata.
2. Muraqabah Dzatiyah
Lebih dalam dari
indikator lahiriah adalah muraqabah dzatiyah, yaitu kesadaran bahwa Allah
selalu mengawasi. Dengan muraqabah ini, amal tetap terjaga meskipun:
·
tidak ada yang melihat,
·
tidak mendapat pujian,
·
atau bahkan menghadapi tekanan dan celaan.
Inilah benteng dari riya,
nifaq, dan kamuflase amal.
Urgensi Iltizam dalam
Kehidupan Jama’ah
Dalam kehidupan
berjama’ah, iltizam adalah syarat mutlak. Ahdaf jama’ah tidak akan tercapai
tanpa junud yang memiliki:
·
tha’at,
·
iltizam,
·
dan jiddiyah.
Hasan Al-Banna menegaskan
bahwa kesiapan seseorang memasuki fase takwini dan tarbawi diukur dari
ketaatannya yang sempurna (atha’at kamilah). Bahkan seorang yang sangat wara’
sekalipun, jika tidak mau beriltizam, tidak dapat disebut sebagai ’adha jama’ah.
Kualitas seorang anggota
jama’ah sejatinya diukur dari kualitas iltizamnya, bukan semata dari kapasitas
intelektual atau popularitasnya.
Dua Bentuk Iltizam
1. Iltizam terhadap
Syariat
Iltizam ini meliputi:
·
Aqidah salimah, iman yang murni dari
syirik dan nifaq;
·
Ibadah salimah dan istimrar;
·
Akhlaq hamidah sebagai wujud Al-Qur’an
yang hidup;
·
Dakwah wal jihad sebagai ekspresi tanggung
jawab sosial;
·
Syumul wa tawazun, yakni keseimbangan
dalam seluruh aspek kehidupan.
Islam menolak sikap
berlebihan dan kelalaian sekaligus. Seorang muslim dituntut adil terhadap
dirinya, masyarakat, dan Rabb-nya.
2. Al-Iltizam Bil Jama’ah
a. Iltizam terhadap
Bai’ah
Bai’ah adalah akad
kesetiaan yang mengikat hati dan amal. Sekali bai’ah diikrarkan, maka ia
menjadi komitmen seumur hidup.
b. Iltizam terhadap
Ansyithah
Komitmen mengikuti
seluruh kegiatan jama’ah, baik yang bersifat dakhiliyah maupun kharijiyah,
dengan kesungguhan dan semangat.
c. Iltizam terhadap
Wadhifah
Setiap tugas adalah
amanah. Bukan tugas yang menyesuaikan diri dengan kita, melainkan kitalah yang
harus menyesuaikan diri dengan tugas.
d. Iltizam terhadap Infaq
Infaq adalah bukti
kejujuran iman dan kesediaan berkorban demi dakwah.
e. Iltizam terhadap
Qaranat
Disiplin terhadap aturan
jama’ah mencerminkan kedewasaan dan kesiapan berjama’ah.
f. Iltizam terhadap Taat
kepada Pemimpin
Ketaatan dalam koridor
syariat adalah fondasi kekuatan jama’ah dan penjamin kesatuan barisan.
Penutup
Iltizam adalah ruh
perjuangan. Ia bukan sekadar aktivitas, melainkan kesadaran hidup. Dari iltizam
yang kokoh akan lahir pribadi insan mutakamil yang mampu menjaga konsistensi
ibadah, dakwah, dan pengabdian dalam jama’ah.
anpa iltizam, perjuangan
akan rapuh. Dengan iltizam, dakwah akan tetap hidup—meski pelakunya silih
berganti.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar