زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلْبَنِينَ وَٱلْقَنَٰطِيرِ ٱلْمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلْفِضَّةِ وَٱلْخَيْلِ ٱلْمُسَوَّمَةِ وَٱلْأَنْعَٰمِ وَٱلْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسْنُ ٱلْمَـَٔابِ
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”.
Firman Allah di ayat ke-14 surat Ali Imran di atas menunjukkan ada tabiat di setiap manusia mencintai - salah satunya - harta.
Mencintai harta itu fitrah, Allah SWT sendiri yang memberikannya. Namun, kadangkala cinta harta ini berlebihan, sehingga tidak sedikit manusia yang melanggar rambu-rambu syariat untuk meraihnya.
Ikhwanul Muslimin, sebagai jamaah kumpulan manusia, pernah juga mengalami masa di mana harta menjadi sumber pertikaian dan perselisihan di kalangan mereka, sebagaimana diceritakan Hasan Al-Banna dalam memoarnya.
Dalam buku Memoar Hasan Al-Banna, bab Pangkat dan Harta, beliau menulis sebagai berikut,
Keduanya (pangkat dan harta) senantiasa menjadi pangkal pertikaian, sumber perselisihan, dan bahan baku kejahatan di alam semesta ini. Para ikhwan di Ismailia menjadi teladan yang bersih dan tulus tentang kecintaan, pertautan jiwa, dan kejernihan yang tidak dikotori oleh kekeruhan apa pun. Mereka berlomba-lomba untuk berderma, beramal, berkorban, dan menanggung beban dalam rangka menyampaikan dakwah. Mereka berhasil menaklukkan berbagai kendala yang menghadang di jalannya.
Mereka mencintai siapa pun yang berhijrah kepada mereka; mereka tidak butuh balasan atas apa yang telah mereka berikan; dan mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.
Setelah sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan didirikan, diangkatlah para pegawai dari kalangan orang-orang yang memiliki ijazah perguruan tinggi dan memiliki kualitas keilmuan secara formal. Sementara mereka belum mendapatkan pembinaan ruhiyah dan belum juga mendapatkan tarbiyah tentang konsep-konsep dakwah secara memadai. Karenanya muncullah di masyarakat Ikhwan unsur asing yang dalam aspek tujuan, sarana, dan target-target, tentu saling bergesekan. Jadilah para pegawai ini orang-orang asing dalam kacamata kejiwaan dan pemikiran, di lingkungan ini. Mereka berambisi untuk meraih jabatan-jabatan dakwah dan apa yang mereka sangka sebagai kas dakwah.
Padahal, dakwah ini tidak pernah sehari pun mempunyai kas karena kebutuhan-kebutuhannya selalu menjadi tanggungan bagi income-incomenya. Kasnya senantiasa kosong, sekalipun proyek-proyeknya selalu sukses - dengan izin Allah - berkat kantong-kantong baju ikhwan yang berstatus sebagai kas-kas dakwah. Orang-orang asing tersebut merasa nikmat berjalan di tengah-tengah para ikhwan dengan membawa-bawa fitnah, melakukan berbagai konspirasi, yang - dalam anggapan mereka - dapat mengantarkannya ke jabatan-jabatan penting dalam struktur Jamaah, tidak saja dalam institusi-institusinya. Dengan begitu mereka berharap menguasai income-incomenya.
Aktor intelektualnya, yang memimpin gerakan ini dan mengatur skenario pelaksanaannya, adalah “Seorang syaikh brilian, penulis piawai, ‘alim, faqih, intelek, fasih berbahasa, dan ahli pidato yang telah diangkat sebagai guru di Ma’had Hira’.” Di sana saya menghargai keahlian-keahliannya dan mempercayainya untuk memimpin panitia berbagai acara dan menyampaikan beberapa pelajaran di masjid Ikhwan. Ia dihormati oleh semua orang. Karena itu ia berambisi untuk menjadi pimpinan Jamaah di Ismailia, khususnya karena ia mengetahui bahwa saya - sebagai pegawai yang telah bertugas di kota ini selama empat tahun - suatu hari nanti pasti pindah dari sini ke kota lain. Ia lupa bahwa ia sendiri juga pegawai yang dapat saja dipindah atau dipecat, lebih dariku.
Untuk mewujudkan ambisi ini ia tidak menempuh cara yang wajar, yaitu dengan beramal secara ikhlas dan bersungguh-sungguh menunjukkan dedikasinya kepada dakwah, tetapi ia berusaha meraihnya dengan jalan pintas: konspirasi, mengadu domba, dan penyebaran fitnah. Ia berkawan dengan beberapa anggota Dewan Pimpinan yang diyakininya mempunyai wibawa dan kedudukan di kalangan para ikhwan. Ia pererat hubungan dengan mereka dan saling mengunjungi.
Sementara kita semua tidak melihat hal ini kecuali sebagai amal yang bersih, tanpa debu yang mengotorinya dan mengotori dakwah Ikhwan. Bukankah dakwah Ikhwan adalah dakwah yang menguatkan hubungan di antara sesama saudara seiman?
Memoar ini ditulis akhir tahun 1930-an. Dari catatan di atas, sumber konflik berawal dari orang-orang yang disebut Hasan Al-Banna sebagai orang yang ‘belum mendapatkan pembinaan ruhiyah dan belum juga mendapatkan tarbiyah tentang konsep-konsep dakwah secara memadai.’ Sehingga mereka menjadi ‘orang-orang asing dalam kacamata kejiwaan dan pemikiran, di lingkungan ini (lingkungan Ikhwan).
Mirisnya lagi, orang-orang tersebut kemudian melakukan ‘gerakan’ untuk meraih posisi (pangkat) di jamaah. Bukan sekadar gerakan, bahkan mereka sudah menyiapkan tokohnya - yang menjadi aktor intelektual gerakan itu - untuk mengambil alih kekuasaan.
Menariknya, Hasan Al-Banna menjelaskan karakter sang aktor intelektual itu sebagai seorang 'syaikh brilian, penulis piawai, ‘alim, faqih, intelek, fasih berbahasa, dan ahli pidato.’
Mengingatkan saya - saat ini - pada sesetokoh yang pernah saya kagumi. Yang ini, mungkin, membuktikan bahwa sejarah itu selalu berulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar