Minggu, 15 Februari 2026

Memoar Hasan Al-Banna: Konspirasi Pertama

 


Dalam perjalanan sebuah gerakan, ujian terberat sering kali bukan datang dari luar, melainkan dari dalam. Sejarah mencatat bahwa bahkan dalam barisan yang dibangun atas dasar iman pun, godaan ambisi pribadi tetap bisa menyelinap dengan wajah yang tampak mulia.


Dalam memoarnya, Hasan Al-Banna merekam sebuah peristiwa yang memperlihatkan bagaimana keinginan terhadap jabatan dapat dibungkus dengan alasan “demi kemaslahatan dakwah”, padahal di baliknya tersembunyi dorongan hawa nafsu.


Kisah ini bukan sekadar catatan sejarah Ikhwanul Muslimin. Ia adalah cermin yang relevan sepanjang zaman: tentang bagaimana ambisi bisa menyusup ke dalam hati seorang aktivis, tentang bagaimana bisikan pembenaran diri dapat memecah ukhuwah, dan tentang bagaimana kepemimpinan yang bijak meresponsnya tanpa memperuncing perpecahan.


Sebelumnya, atas desakan beberapa ikhwan - untuk mempersiapkan kalau Mursyid (Hasan Al-Banna) pindah domisili - Hasan Al-Banna menunjuk Syaikh Ali Jadawa. Bahkan, supaya fokus mengurus organisasi, diputuskan beliau melepaskan pekerjaannya dan diberi kafalah dari kas organisasi.


Ternyata keputusan tersebut tidak semua menerimanya. Ternyata, diam-diam, jabatan yang diberikan kepada Syaik Ali Jadawa itu ada yang menginginkannya, seorang syaikh. Dan ini diceritakan oleh Hasan Al-Banna sendiri dalam memoarnya, sebagai berikut:


Seorang syaikh - yang sengaja tidak saya sebutkan namanya - menyaksikan sendiri bahwa harapannya untuk memimpin Ikhwanul Muslimin pupus oleh keputusan yang telah ditetapkan. Jabatan naib mursyid telah diberikan kepada Syaikh Ali Jadawa. Dalam dirinya timbul kegelisahan: bagaimana mungkin ia menerima keputusan itu, sementara ia merasa lebih berilmu, lebih cakap, dan lebih layak dibandingkan orang yang terpilih?


Ia menimbang-nimbang kelebihannya: pendidikan tinggi, kepandaian bersyair, kefasihan berbicara, kecakapan berdiplomasi, dan kemampuannya bergaul dengan masyarakat dalam urusan dakwah. Semua itu - menurut pandangannya - tidak terdapat pada Ali Jadawa. Dari sinilah ia mulai menyusun langkah.


Ia mendekati beberapa sahabat yang telah lama memiliki hubungan dekat dengannya. Dengan cara yang halus dan bertahap, ia membisikkan bahwa dirinya lebih pantas memegang jabatan itu. Ia menyatakan bahwa keputusan sebelumnya belum final, sebab pertemuan saat itu tidak dihadiri seluruh ikhwan. Seandainya semua hadir, katanya, mungkin hasilnya berbeda.


Ia juga mengungkit pengorbanannya: tenaga, pikiran, harta, bahkan masa depan yang ia persembahkan untuk dakwah. Ia menampilkan dirinya sebagai orang yang terzalimi, seolah haknya dirampas. Kata-katanya terdengar lembut dan penuh alasan kebaikan, namun sesungguhnya bertujuan membuka jalan untuk membatalkan keputusan dan menyerahkan jabatan itu kepadanya.


Akh yang ia ajak bicara benar-benar terpengaruh. Bisikan itu menyebar di kalangan ikhwan. Saya pun merasakan adanya gerakan yang tidak wajar, seperti angin yang berembus pelan tetapi pasti. Saya mengetahui dari mana arah hembusan itu datang. Saya memanggilnya dan menasihatinya, tetapi pikiran orang yang terpengaruh sering kali telah dipenuhi pembenaran: bahwa semua ini demi kemaslahatan dakwah, bukan demi kepentingan pribadi.


Inilah pintu yang sering dipakai setan untuk merusak hati orang beriman: membungkus ambisi dengan slogan kepentingan bersama. Bahkan beberapa sahabat dekatnya ikut terseret oleh perasaan iri dan dorongan membenarkan dirinya, semua dengan kalimat indah: “demi kemaslahatan dakwah.”


Saya tidak ingin memperkeruh keadaan atau tergesa-gesa menilai mereka. Saya lebih memilih jalan yang lebih utama: mengumpulkan mereka dan menanyakan dengan terbuka apa sebenarnya yang mereka kehendaki. Mereka mengusulkan agar jabatan itu diserahkan kembali kepada musyawarah umum dengan kehadiran yang lebih lengkap.


Saya menjawab bahwa jika memang demikian yang diinginkan, maka mari kita lakukan secara terbuka dan jelas. Undangan disampaikan kepada seluruh ikhwan, tujuan pertemuan diterangkan, dan setiap orang diberi kesempatan menyampaikan pendapatnya dengan bebas.


Akhirnya kami berkumpul. Hasilnya tegas dan mengejutkan: hampir seluruh suara, kecuali empat orang, tetap memilih Syaikh Ali Jadawa. Keempat orang itu berkeras pada pendapatnya dan hendak memaksakannya, seolah ratusan suara lainnya keliru. Padahal persatuan jamaah adalah perkara yang agung, dan Islam sangat tegas terhadap siapa pun yang berusaha memecah belah barisan kaum beriman.


Meski demikian, saya tetap memilih kelembutan. Setelah keputusan ditetapkan, banyak ikhwan datang menawarkan bantuan harta untuk mendukung saudara mereka yang mengabdikan diri sepenuhnya pada dakwah. Saya menenangkan mereka dan mencari jalan keluar yang bijak agar tidak ada pihak yang merasa disisihkan, sekaligus menjaga persatuan dan kehormatan jamaah.


Dengan pertolongan Allah, perkara itu akhirnya mereda. Saya berharap ujian ini menjadi pelajaran bagi kami semua: bahwa keikhlasan harus dijaga, bahwa ambisi yang tersembunyi dapat menyusup lewat alasan yang tampak mulia, dan bahwa musyawarah yang jernih serta sikap lapang dada adalah benteng terkuat bagi persatuan dakwah.


Kisah yang dituturkan oleh Hasan Al-Banna di atas menegaskan bahwa ancaman terbesar bagi sebuah perjuangan bukan semata tekanan eksternal, melainkan lunturnya keikhlasan di dalam dada para pelakunya. Jabatan, jika tidak disikapi sebagai amanah, mudah berubah menjadi tujuan. Dari situlah lahir pembenaran-pembenaran halus: atas nama maslahat, atas nama perbaikan, bahkan atas nama dakwah. Padahal, ketika ambisi pribadi diberi ruang, persatuan menjadi taruhannya.


Karena itu, setiap gerakan perlu menanamkan budaya muhasabah, transparansi, dan musyawarah yang sehat sebagaimana dicontohkan dalam pengalaman Ikhwanul Muslimin. Jabatan hendaknya dilandasi oleh amanah, bukan dikejar oleh nafsu. Dan ketika hati mulai condong pada kedudukan, saat itulah seseorang perlu kembali bertanya: apakah ia sedang memperjuangkan misi, atau sedang memperjuangkan diri sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Memoar Hasan Al-Banna: Konspirasi Pertama

  Dalam perjalanan sebuah gerakan, ujian terberat sering kali bukan datang dari luar, melainkan dari dalam. Sejarah mencatat bahwa bahkan da...