Kamis, 29 Januari 2026

Memoar Hasan Al-Banna: Dakwah di Kedai Kopi

 


Bagi seseorang yang berpikiran bersih dan jernih, dengan hati ikhlas serta dipenuhi spirit dakwah, apapun yang dilihatnya adalah peluang untuk berdakwah.

Saat melihat banyaknya kedai-kedai kopi di Mesir, Hasan Al-Banna tidak melihat hal lain selain itu adalah peluang dakwah.

Maka, beliau pun mengajak rekan-rekan sesama aktivis dakwah untuk berdakwah di kedai-kedai kopi tersebut. Namun, rekan-rekan beliau tidak yakin pemilik kedai akan memberi izin dan pengunjung kedai mau mendengarkan.

Kisah dakwah Hasan Al-Banna di kedai kopi tersebut diceritakan di buku Memoar Hasan Al-Banna, di bab Dakwah di Kedai-Kedai Kopi.

Saya menawarkan kepada teman-teman agar keluar untuk menyampaikan khotbah atau ceramah di kedai-kedai kopi. Teman-teman merasa heran seraya berkomentar, “Para pemilik kedai kopi tentu tidak akan mengizinkan hal ini. Mereka pasti akan menolaknya, karena dapat mengganggu pekerjaan mereka. Di samping itu, kebanyakan dari para pengunjung kedai kopi adalah orang-orang yang hanya memikirkan apa yang sedang mereka nikmati. Bagaimana kita mesti berbicara tentang agama dan akhlak di hadapan orang-orang yang hanya memikirkan kesenangan duniawi seperti yang sedang mereka nikmati itu?”

Saya berbeda pendapat dengan teman-teman ini. Saya meyakini bahwa kebanyakan orang yang berada di kedai kopi siap mendengarkan nasihat dari pihak lain, termasuk dari kalangan aktivis masjid, sebab kegiatan ini merupakan sesuatu yang unik, langka, dan baru bagi mereka. Kita tidak perlu menyampaikan sesuatu yang dapat melukai perasaan mereka. Kita harus menyampaikannya dengan metode yang tepat, dengan gaya yang menarik, dan dalam waktu yang singkat.

Ketika terjadi perdebatan yang panjang seputar masalah ini, saya katakan kepada teman-teman, “Mengapa percobaan ini tidak kita jadikan saja sebagai ‘hakim’ dalam persoalan tersebut?”

Akhirnya, teman-teman pun menerima usulan saya. Kami pun akhirnya keluar untuk melakukan apa yang telah kami rencanakan. Kami awali dengan mengunjungi beberapa kedai yang terdapat di kompleks Shalahuddin. Selanjutnya di kedai-kedai kopi yang tersebar di wilayah Thulun, hingga akhirnya, melalui jalan berbukit, sampai di Jalan Salamah dan Jalan Sayidah Zainab.

Saya perkirakan dalam waktu semalam itu saya dapat menyampaikan lebih dari dua puluh kali ceramah. Setiap ceramah menghabiskan waktu antara lima hingga sepuluh menit.

Ternyata para pendengar sangat takjub. Mereka semua terdiam mendengarkan ceramah dengan seksama. Para pemilik kedai pada mulanya seperti kurang berkenan, namun setelah itu mereka justru minta agar ceramah ditambah lagi. Mereka ingin agar setelah menyampaikan ceramah, kami minum-minum terlebih dulu, atau minta apa saja yang diinginkan. Namun dengan halus kami tolak. Kami meminta maaf kepada mereka karena tidak bisa memenuhi kemauannya dengan alasan sempitnya waktu.

Kami memang telah berjanji kepada diri sendiri untuk mengoptimalkan penggunaan waktu untuk Allah. Karenanya kami tidak ingin memanfaatkannya untuk yang lain. Sikap kami ini dapat memberikan pengaruh yang cukup besar bagi jiwa mereka. Tidak perlu heran, karena Allah swt. tidak pernah mengutus seorang rasul atau nabi, kecuali motto pertamanya adalah: “Katakanlah, ‘Saya tidak akan meminta upah dari kalian atas dakwah ini.’” Kesucian niat inilah yang memberikan pengaruh yang positif dalam jiwa para mad’u (objek dakwah).

Percobaan ini ternyata berhasil seratus persen. Selanjutnya kami kembali ke tempat kami di Syaikhun. Kami sangat gembira dengan keberhasilan ini dan bertekad untuk meneruskan perjuangan di lahan ini. Kami selalu berusaha memberikan nasihat praktis yang aplikatif kepada semua orang melalui metode semacam ini.

Ini merupakan komitmen kami. Di dalam aktivitas ini, saya menemukan “hiburan” tersendiri bersamaan dengan absen saya dari Jam’iyyah Al-Hashafiyyah, yang gregetnya sudah mulai luntur di Mahmudiah, meskipun para anggotanya masih terus mempererat persaudaraan, saling bekerjasama untuk Islam, serta masih dipersatukan oleh Tarekat Hashafiyyah untuk tetap melaksanakan aktivitas ibadah, dzikir, dan beramar ma’ruf nahi munkar.

Apa yang menyebabkan dakwah di kedai kopi tersebut berhasil?

Dari cerita di atas, dapat disimpulkan ada 5 poin, yaitu:

🔹 Singkat (5–10 menit)

🔹 Tidak meminta/menuntut apa pun

🔹 Tidak menghakimi

🔹 Metode bercerita, bukan seperti ceramah di mimbar

🔹 Motivasinya bersih, tanpa pamrih.

Kisah di atas terjadi di Mesir tahun 1930-an. Sekarang, hampir seratus tahun kemudian, masih relevankah dakwah seperti yang dilakukan Hasan Al-Banna tersebut? 

Tentu sangat berbeda suasana kedai kopi dahulu dengan cafe kopi saat ini. 

Tapi, tidak ada yang tidak mungkin, kan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kriteria Murobbi yang Produktig

  Di antara fenomena yang ada dikalangan aktivis da'wah saat ini adalah lemahnya aktifitas da'wah dan tarbiyah serta menurunnya prod...